Pesan dari Pendeta..

RENUNGAN MINGGU SEXAGESIMA

MEMELIHARA PERINTAH ALLAH DENGAN BENAR

EV : MARKUS 7 : 1 – 8                                                            EP : ULANGAN 30 : 15 – 20

Bagi orang Yahudi, Hukum Taurat itu pada mulanya mengandung dua pengertian. Pertama dan terutama sekali, Hukum Taurat adalah Dosa Titah dan kedua, Hukum taurat itu adalah kelima Kitab Musa. Muatannya adalah sejumlah peraturan dan pengajaran tertentu yang terperinci. Namun, dalam hubungan dengan masalah-masalah moral, yang ada disana adalah serangkaian prinsip prinsip utama moral yang harus ditafsirkan oleh setiap orang yang dikenakan kepada dirinya sendiri. Namun, para ahli taurat yang merasa diri lebih mempunyai hak menentukan sejumlah peraturan-peraturan, tidak puas dengan prinsip-prinsip moral utama ini. Mereka menginginkan agar prinsip utama ini dijelaskan, diperluas dan diperinci sehingga menjadi ribuan peraturan dan ketentuan yang terurai. Peraturan dan ketentuan yang banyak ini belum ada secara tertulis sampai jauh sesudah masa hidup Yesus.

Adalah menjadi sebuah tradisi bagi orang Israel bahwa orang yang tidak membasuh tangan sebelum makan adalah najis. Orang seperti ini akan menjadi objek serangan roh Jahat dan akan mudah menjadi miskin dan hancur. Roti yang dimakan dengan tangan yang najis tidak lebih baik dari kotoran manusia. Masalah tidak mencuci tangan ini diadukan kepada Tuhan Yesus, motivasi mereka yang sebenarnya adalah untuk melimpahkan kesalahan murid-murid tersebut kepada Yesus. Yesus menjawabnya dengan mengutip Yesaya 29:13”Dan Tuhan telah berfirman : “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari padaKu dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan”. Yesus mempersalahkan ahli taurat karena mereka menggunakan agama sebagai kepatuhan lahiriah. Mereka menyamakan kebaikan dengan apa yang disebut perbuatan-perbuatan agamawi, tanpa mempedulikan sikap hatinya terhadap Tuhan. Mereka menukar hukum Allah dengan usaha-usaha mereka yang pintar.

Ungkapan “laut dalam dapat diduga, dalam hati siapa yang tahu?” mengartikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui isi hati orang lain sedekat apapun relasi yang terjalin. Isi hati akan terungkap dalam bentuk perbuatan nyata dari orang tersebut, sehingga setiap perbuatan adalah perbuatan adalah cerminan dari isi hati orang tersebut. Ajaran Yesus ini mengingatkan kepada kita supaya tidak memusatkan tujuan kita dengan “memasukan” banyak hal dari luar ke dalam diri kita apakah pengetahuan, informasi, wawasan dan sebagainya. Tentu semua yang didapatlan sangat bermamfaat dan mendorong penigkatan motivasi dalam hidup, tetapi yang mau Yesus tegaskan adalah apakah yang masuk itu akan mengeluarkan kebaikan atau keburukan ? bisa saja ada banyak pengetahuan tentang kebaikan yang kita terima, tetapi akan mengeluarkan keburukan atau sebaliknya. Mari kita mendengan suara Tuhan dan lebih taat untuk melakukan kebenaran Firman Tuhan yang menjadi hukum bagi kita. Selamat menjadi murid Tuhan Yesus. Mari layani Dia dengan hati dan penuh dengan ketulusan. Amin. Pdt. DM